Jumat, 06 Juni 2014

How can I forget

Hi...
Kali ini saya memberanikan diri untuk nyampah lewat tulisan. Ngomel, curhat, ngamuk lewat susunan kalimat demi kalimat ini. Yaaa.....tak ada asap jika tak ada api, klise banget sih emang ungkapannya tapi emang bener. Sama halnya dengan saya saat ini, ga akan mungkin saya bisa dengan semangat 45 ngeblog malam ini kalau bukan karena udah terlalu sumpek dan mumet karena sesuatu yang udah dari jaman Anang Hermansyah & Krisdayanti masih rukun akur tentram sejahtera sampe cerai trus PDKT ma Syahrini trus putus kemudian pacaran sm Ashanty dan sampe akhirnya berhasil menikahi Ashanty ( what??ga nyambung deh but its Ok) saya pendam smpe sekarang.

Masalah apa yang paling sensitif buat kalian? ya kl bisa sy menebak dari hasil survey yang berhasil dengan suksesnya sy lakukan di rumah ada beberapa masalah yang sangat sensitif yang bisa mengundang amukan macan seperti sy,  adalah sebagai berikut :

1. Family
2. Financial
3. Food (yang ketiga ini mungkin hanya terjadi pada kehidupan pribadi sy)

Nah bagaimana? Dari beberapa yang udah sy sebutkan diatas apa ada yang menurut Anda "ihh sumpeh mi apaaah ni Gw Bingiiiits". Its Oke itu manusiawi kok setiap orang mempunyai Area Superduper sensitif. Yang berhasil pecahin rekor buat saya ngamuk adalah mereka yang menyakiti keluarga saya. Oh iya sebelum terlalu jauh curhatnya saya ingin klarifikasi tentang apa yang saya sebut dengan "keluarga".

Keluarga itu adalah orang yang selalu dengan tulus dan penuh kasih sayang mendidik, mendampingi dan menerima kita dalam keadaan apapun. Orang yang tidak pernah menuntut imbalan dari setiap ketulusan dan kasih sayang yang mereka berikan. Bukan mereka yang menusuk dari belakang, memandang dari segi materi bukan juga  mereka yang menjadikanmu bak sapi perah saat kamu sukses. 

Saya rasa basa basinya udah cukup segitu aja dulu takutnya malah jadi basi banget ceritanya sekarang masuk ke Pembahasan Masalah. hahahhahha. Udah kaya lagi skripsi aja. Jadi konon ceritanya seperti ini, semenjak Ibu saya meninggal saya hanya punya "Bapak" selebihnya cuma status doang tuh yang namanya keluarga tapi secara hati, jiwa dan silsilah yang namanya keluarga buat saya hanya Bapak dan Ibu. 

Setelah mendapat gelar S.IP dibelakang nama saya, saya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Bukan tanpa alasan dan pertimbangan kuat saya mengambil keputusan untuk hidup sendiri di Kota Besar dan meninggalkan Bapak sendirian disana. Sungguh ini pilihan yang sangat berat dan sulit. Tapi pilihan ini saya ambil dengan pertimbangan kalau saya tetap di Makasar saya hanya akan jadi permpuan biasa dan akan tetap menjadi "Upik Abu yang NOTHING" dihadapan mereka.

Saya hanya akan sakit hati dan makin terhina selalu mengemis perhatian dari mereka yang pernah kusebut keluarga. Sampe akhir tahun kemarin saya masih sabar dan masih berharap mereka membuka pintu hati dan menerima keberadaan saya dengan tulus sebagai keluarga mereka yang akan selalu  berusaha membuat mereka bahagia dan berusaha membantu apapun itu dengan segala kekuatan dan kemampuan yang saya punya. 

Tidak semanis yang saya impikan, mereka masih saja belum berubah. masih memandang saya hanya keluarga angkat. Mungkin kasta terendah bagi mereka adalah keluarga saya tapi saya masih belum peduli saat itu, saat mereka dengan senang hati membuatku bagai Upik Abu. Saat itu kalau dengan memanfaatkan saya mereka bisa bahagia, its Oke anggap aja pahala dan latihan pengendalian diri.

Hampir 2 tahun lamanya tak bertemu mereka, ternyata tak ada yang spesial saat saya datang dengan perasaan setumpuk rindu pada mereka yang "pernah kusebut keluarga". Tak harus dijemput dengan karpet merah kok, tak harus dijamu dengan makanan mewah yang saya inginkan hanya kebersamaan yang tulus. Kabar yang paling menohok setelah saya kembali adalah mereka protes keras saya pulang ga bawa oleh2 katanya udah kerja saat itu saya sama sekali tidak berencana untuk pulang tapi karena ada tiket promo jadi jadi saya manfaatkan semaksimal mungkin tapi bukankah mereka yang menyebut dirinya "keluarga" jauh merasa labih bahagia dan extcited saat salah satu anggota keluarganya yang udah lama ga pulang akan datang, trus masalah numpang makan gaji kemana aja lah trus kalau saya datengnya pas malam orang makan malam masa iya saya nolak rezeki kalau diajak makan malam, ATM bermaasalah ga bisa booking tiket dibilangnya jauh jauh kerja beli tiket aja ga sanggup trus salah gw, salah abang2 security ATM? .. Oh God, I can forget the way they hurt me...

Saya sampe merasa ada yang aneh, semua hal bisa jadi cerita negatif dan mereka jadi sangat offensive terhadap saya. Salah apa coba? Masih suka bingung deh saya baik aja salah apalagi kalau udah jahat, bisa dibakar hidup hidup kali saya. 

Saya ga peduli saya disakiti mereka ASAL jangan sakiti Bapak saya. Saya rasa anak dibelahan dunia manapun pasti sangat amat tidak rela dunia akhirat kalau orangtuanya disakiti atau direndahkan oranglain. Saya yakin itu. Dan terimakasih buat mereka yang akhirnya menyadarkan saya dari mimpi manis yang panjang, mimpi manis bahwa saya dan mereka bisa berubah menjadi keluarga yang sangat harmonis dan penuh cinta.

Hal tersulit untuk saya maafkan. mereka menyakiti Bapak saya. Seumur hidup saya ga pernah dengar bapak saya nangis bahkan saat Ibu saya meninggal. Tapi saat itu samar samar suaranya seperti menahan isak tangis saat saya telpon. Tidak ada kata kasar sedikitpun, tak ada amarah sedikitpun. Tapi dari suaranya yang sedikit gemetar saya tau Bapak saat itu sangat terpukul. Mereka sudah sangat keterlaluan. 

Permasalah yang sangat sepele, dan bukan urusan mereka. Waktu itu saya hanya lagi diuji Allah aja, ATM saya bermasalah semntara saya harus bayar tiket saat itu juga karena esoknya saya sudah harus kembali ke perantauan. Karena saya sama sekali tidak berniat sedikitpun muenyusahkan keluarga akhirnya saya nekat jual HP yang saya punya seharga 500.000 itupun jualnya ke tante. Dengan pemikiran setelah saya sampai di Jakarta saya bisa menebus HP itu lagi toh jualnya ke tante kan? jadi ga masalah. ternyata jadi masalah besar dan jadi HOT NEWS di kelurga. itu yah ibaratnya kalau di koran di headlinenya tertulis gini STATUS KARYAWAN, TERNYARA BELUM SANGGUP BELI TIKET. Astagfrirullah.. I think its not a big deal right?? 


Dari mulut ke mulut cerita itu makin didramatisir sampai Bapak saya dimaki maki oleh salah satu tante katanya "anak kamu itu ga jelas kerjanya, sudah kerja kok ga sanggup beli tiket malu maluin keluarga"...what??? are you kidding meeeeeeeeee???? Itu jadi pukulan terbesar buat bapak saya karena perjuangan saya disini diremehin.. Saya ga harus pamer dancerita kan bagaimana saya berusaha survive dan nabung kemudian cari kerja? Atleast saya bisa mandiri dan bebagi ke Bapak saya. kok mereka yang sewot sih? 


Rasanya saat itu pengen banget saya pulang lagi dan sumpel mulutnya pake batu. Tapi tiba tiba saya teringa pesan almarhum ibu, kalau suatu saat saya tidak bisa menahan amarah istigfarlah dan ingat kalau diluar sana masih ada kekuatan yang lebih besar dari Uang yang mereka anggap tuhan, masih ada Allah yang lebih berhak membalas mereka. Katanya cukup balas dengan kebaikan dan tetap berdoa semoga suatu saat mereka bisa diberi Hidayah oleh Allah. 

Tapi rasanya tak cukup, saya masih sangat tidak rela mereka menghina saya dan Bapak karena Uang, sampe pada suatu saat ada kesempatan saya memberi penawaran tiket gratis bolak balik MKS-JKT untuk beberapa orang untuk mengahadiri pernikahan saya, setelah ditawari dia malah mencibir katanya kalau JKT sy udah sering. What?? ini bukan masalah tempat tapi ini masalah anak dari saudara kandung anda menikah, jika saja dia masih merasa keluarga dia pasti mau datang bahkan tak ditawari tiket gratispun mereka pasti excited untuk datang tapi yang terjadi ditawari kebaikanpun yang ada saya  malah dicari cari kesalahannya..


Duh apa untungnya sih cari cari kesalahan saya, toh ga akan berubah jadi duit kan. Berubah jadi dosa, ya iya udah pasti kali... Katanya saya durhaka karena ga patuh sama adatlah, saya sombonglah pake acara traktir tiket gratislah, saya hamil, inilah itulah.....Tuh kan bahkan dengan niat yang muliapun masih salah di depan mereka. 

Saya memilih menikah ditempat rantauan saya bukan berarti saya durhaka sama adat?? Apa ada dalil atau hadist yang menguatkan kalau nikah harus pake adat? Pernikahan impian saya adalah pernikahan yangf berlandaskan agama dan syar'i. Bukan pernikahan yang dipaksankan mewah karena gengsi dan kemudian terlilit utang karena biaya nikah yang fantastis. Adat itu hanya tradisi, bukan berarti saya menyepelekan Adat tapi itukan pernikan saya dan Bapak saya pun setuju kok mereka yang kebakar yah? Bantu aja kagak ngeribetin luar biasa.

Saya hanya berharap keluarga bahagia dengan pernikahan saya tanpa harus merepotkan. Mereka cukup datang, tiket, villa, catering semuanya Alhmdllh saya handle berdua dengan calon suami (saat itu skrg suami). Niat saya baik kok saya cuma ingin kalian jalan2 gratis, menikmati perjalanan ini seperti liburan. Lalu salahnya dimana? di adat lagi ????

Intinya mereka tidak akan menagnggap saya benar karena emang mindsetnya adalah saya itu bahan yang paling mantep buat disalah salahin...Its Okeeeeeeeeeeeeeeeeeeh

Lu...gw...ENDDDDDD !!!!!!! hahhahahhhaha

Bahkan sebulan setalah pernikahan saya  mereka tidak pernah mengucapkan "selamat". Ngambek niyeeeeeeh. terimakasih apapun itu terimakasih atas pelajaran berharga ini.









Senin, 08 April 2013

Aku Hidup Meski Jiwaku Telah Pergi




Aku Alina Maesya. Aku biasa disapa dengan sebutan nama Alin. Aku putri tunggal dari pasangan Bu Neni dan Pak Dera. Aku siswi SMU Kota Baru kelas XI IPA dan sekaligus Wakil Ketua OSIS di sekolahku. Ini periode kedua aku masuk sebagai pengurus OSIS di sekolah. Belakangan ini aku sibuk mengurus acara festival musik antar sekolah yang akan diselenggarakan oleh OSIS.

Seperti setiap harinya pagi aku berangkat sekolah. Belajar, ngurus OSIS dan tentunya nongkrong di kantin Bu Siti bareng teman-temanku, itu udah jadi sesuatu yang wajib. Kantin Bu Siti emang paling beken di sekolah, jajanannya pun maknyos deh pokoknya dan pastinya harganya pas dengan kantong pelajar yang jajannya masih dijatahin orang tua. Tidak seperti teman temanku sepulang sekolah mereka bisa mampir kemana aja untuk sekedar nongkrong atau ngerjain PR bareng, aku mana bisa seperti mereka secara rumah dan sekolah ku jaraknya deket banget. Kalaupun mau nongkrong sepulang sekolah harus mampir di rumah dulu pamit sama ibu dan ayah. Izinnya pun harus detail, dengan siapa, mau kemana, mau ngapain, pulang jam berapa dan blaaa....blaaaa....blaaa.Yah seperti itulah ribetnya putri tunggal yang dipingit.

***

Hari ini aku memimpin rapat pemantapan untuk persiapan festival musik yang akan diselenggarakan dua minggu lagi. Rasanya dua minggu itu seperti 3 hari lagi, semua panitia acara dan OSIS sibuk. Selang 30 menit saya memimpin rapat tiba tiba terdengar ada yang mengetuk pintu ruangan OSIS .
" Alin,Alin sini bentar dong"........Febi memanggilku.
Ada apa Feb? Kalau mau gabung duduk aja dipojok sana, kataku.
Kamu di jemput sopirmu tuh, buruan sepertinya sih penting banget,udah ditungguin depan ruangan guru.
Iya Feb..tapi aku belum selesai rapatnya...
"kamu biar digantiin Doni aja mimpin rapatnya ribet banget sih" , desak Febi.
Maaf teman teman aku pamit bentar rapat tetap akan dilanjutkan oleh Doni. Belum selesai aku berpamitan Febi menarikku keluar dari ruangan kali ini setengah berlari.
Sepanjang perjalanan dari ruang OSIS menuju ruang guru aku ngomelin Febi. Dari jauh kulihat pria berambut klimis dan berjaket coklat menungguku di depan ruang guru. Dia Pak Emin orang yang nganter jemput ibu ke kantor.
Ada apa pak Emin? kok Alin dijemput?Alin kan lagi sibuk.....
belum sempat Pak Emin menjawab pertanyaanku, aku menyerbunya dengan pertanyaan yang baru dengan sedikit desakan.
Emang ibu dan ayah nyuruh Pak Emin Jemput? Mau kemana? kenapa ga nunggu Alin pulang sekolah aja sih?
"ih bawel banget sih kamu, gimana Pak Emin bisa menjawab pertanyaan kamu orang kamunya nyerocos mulu dari tadi kaya burung beo", ujar Febi.
"Gini mba Alin, Ibu sakit saya disuruh jemput mba".
Seketika wajahku berubah pucat dan panik ga biasanya ibu sakit sampai nyuruh orang menjemputku di sekolah.
" ya udah aku izin ma guru dulu yah Pak sekalian mau ambil tas di kelas", aku berlari menuju kelas secepat mungkin.
 ***
Tidak perlu waktu lama untuk sampai di rumahku, sampai dirumah aku melihat ibu terbaring di ruang tamu di sampingnya ada ayah.
" Ibu sakit apa?, tanyaku panik".
"Ibu mungkin hanya diare Lin, ibu mencoba menenangkanku."
"Tadi emang makan apa di kantor?kok bisa diare? muka ibu pucat banget."
"Lin kamu ke RS Sandrina yah panggil Dr Aswar kesini, kata ibu."
Loh kenapa ga tante Sani aja? Kan tante Sani juga bisa ayah. (tante Sani adalah adik kandung ibu yang juga seorang perawat.Untuk sementara panggil dr Aswar aja dulu, tantemu mungkin masih diluar daerah.
 Tanpa banyak protes lagi aku pun ke RS. Sandrina dianterin pak Emin untuk menjemput Dr Aswar. Dr Aswar adalah teman kecil ibu dulu.
 ***
Sampai di Rumah Sakit aku langung ke UGD dan bertanya pada seorang suster jaga tentang keberadaan Dr Aswar namun ternyata Dr Aswar sedang tidak di Rumah Sakit. Karena aku pikir ini belum jam pulang kerja aku meminta nomor ponsel Dr Aswar ke suster itu. Kemudian aku berinisiatif untuk menelpon Dr Aswar. Tanpa ragu aku menelpon Dr Aswar karena kupikir dia teman ibuku dan akupun cukup akrab dengannya.
"Halo.......", terdengar suaranya seorang disana.
"Dokter ini Alin, dokter lagi dimana?"
"Ada apa Lin? kok tomben kamu nelpon, saya sedang di jalan menuju pulang ke rumah nih Lin."
Ibu sakit dokter, aku disuruh ayah manggil dokter ke rumah.
"waduh Lin besok saja yah saya mampir di rumah kamu".
"Tapi dok..."
tuuuuut..tuuuuuuuuuuuut ( sambungan teleponnya terputus entah karena jaringan yang lagi error saat itu atau memang dokter itu sengaja menutup telponnya)

Ada rasa kecewa yang besar dalam hatiku orang yang aku pikir bisa membantuku ternyata bersikap seperti itu padaku. Aku panik campur khawatir memikirkan keadaan ibu yang tiba tiba sakit, meminta Pak Emin menjemputku di sekolah dan kemudian menyuruhku memanggil dokter. Selama ini yang aku tau ibu ga pernah mengeluh sakit apalagi ibu paling jarang mau berhubungan dengan dokter dan obat obatan. Semuanya terasa aneh tak seperti biasanya.

Sampai dirumah aku langsung kedekat ibu dan menyampaikan kalau dokternya sedang diluar daerah. Ibu dan ayah memakluminya. Kupandangi wajah ibu yang sedang terbaring lemah dan sangat pucat, tiba tiba aku tersentak  membayangkan apa jadinya hidupku kalau ibu ga ada. Aku belum bisa apa apa. Aku terbiasa dimanjakan olehnya. Ibu memang sangat tegas dan disiplin apalgi soal pendidikan dan maslah kebersihan. Ayah pun tak kalah baiknya, ia sangat memanjakanku. Aku merasa hidupku sangat sempurna karena kasih sayang mereka.

Malam harinya suhu badan ibu meningkat, ayah menelpon tante Sani. Alhamdulillah tante Sani udah pulang dan ga beberapa lama kemudian tante Sani datang ke rumah memeriksa keadaan ibu. Setelah diberi obat oleh tante Sani, ibu tertidur pulas.

***
Kesekokan harinya aku siap siap ke sekolah, saat pamitan mau berangkat sekolah ibu memintaku untuk izin sekolah hari ini. Aku makin takut karena ibu ga pernah bersikap semanja ini. Sejak pagi itu aku ga pernah jauh dari sisi ibu. Meski ayah terlihat bersikap biasa aja, aku tau ayah juga sama khawatir, takut dan paniknya dengan aku. Hanya saja ayah berusaha menutupi apa yang ia rasakan. Ia hanya tak ingin aku makin panik.

Pagi itu juga tante Sani datang mengontrol perkembangan kesehatan ibu. Tante Sani menyarankan agar ibu di infus karena takutnya kondisinya semakin lemah. Untungnya ada tante Sani karena ibu sebenarnya paling ga betah kalau harus di rawat di Rumah Sakit. Aku selalu mencoba ngajak ibu ngobrol. Sesekali ku ajak ibu berfoto denganku. Dia hanya tersenyum melihat tingkahku yang narsis. Setelah ibu tertidur kupandangi foto ibu di ponselku rasanya wajah ibu beda dari yang biasanya kulihat.Tante Sani pun harus pulang meski karena masih ada pasien lain yang menunggu tante Sani. Jam terbang tante Sani di daerahku sudah tidak diragukan lagi.

***
"Lin...Lin..bangun nak."ibu berusaha membangunkanku.
"ya bu, maaf Alin ketiduran", spontan aku bangun.
Ada yang perlu Alin bantu bu? ibu mau apa?"
"Ga Lin ibu cuma bangunin kamu shalat dzuhur, Alin jangan lalai shalat yah nak! Alin mau kan jadi anak manis yang shalehah?" ibu sedikit membujukku karena aku masih terlihat susah beranjak dari tidurku.
"iya dong bu," sambil tersenyum aku perlahan lahan bangun dan kemudian beranjak mengambil air wudhu.

Setelah shalat aku menghampiri ibu, kucium tangannya, pipinya dan kupeluk erat.
"Lin, udah jangan lama lama peluknya ibu kan belum mandi."
"ibu mau ga mandi juga ibu tetap ibu cantik kesayangannya Alin dong".
"kamu ini memang paling bisa ngeles deh Lin."
"bu..." sambil mengenggam tangan kanan ibu.
"apa yang ibu rasain sekarang? perutnya masih sakit ga bu? atau ada keluhan apa bu?"
"ibu ga apa apa kok Lin, sekarang udah mendingan".
ada perasaan sedikit lega mendengar jawaban ibu dan melihatnya tersenyum.
"bu, ibu makan lagi yah! Alin suapin ibu yah."
"Loh Alin yang masak yah? Kapan masaknya nak?" ibu menatapku dengan muka sedikit bingung.
sambil tertawa kecil saya menjawab pertanyaan ibu dengan malu malu.
"Ga bu, itu tadi ayah yang masak bubur buat ibu", kataku sambil melirik ayah yang sedang membantu ibu bangun.
"oooh, ibu pikir Alin udah bisa masak. Lin, Alin harus bisa masak nak. tidak selamanya Alin akan hidup dengan bantuan ayah dan ibu. Suatu saat nanti Alin harus mandiri."
"iya bu, Alin ngerti. Makanya ibu cepat sembuh biar nanti bisa ajarin Alin masak seperti ibu."
Tiba tiba suasana hening, aku tetap menyuapi ibu makan. Kali ini kelihatannya ibu benar benar sakit. Biasanya kalau ibu hanya demam ibu tetap lahap makannya katanya biar cepat sembuh tapi sekarang ibu terlihat tak berselera makan.
"Lin, cukup! ibu udah kenyang."
"Kalau gitu ibu minum obatnya yah! nanti ibu istirahat lagi."
 Setelah makan aku berbaring disamping ibu, mengajaknya ngobrol. Ibu tak banyak bicara, ibu kadang hanya menganggukan kepalanya atau tersenyum jika ia merasa ceritaku menggelitik. Sepertinya kondisi ibu melemah, aku bangun kemudian menarik ayah dan berbisik padanya.
" ayah, aku khawatir liat kondisi ibu sekarang". Ayah tak menjawab ia hanya mengelus kepalaku dan menganggukkan kepalanya. Entah apa maksud ayah tapi bagaimanapun aku mengerti kalau ayah juga merasakan hal yang sama dengan aku.
***
Tepat pukul 17.00 WITA saat itu aku menerima telpon dari tante Sani katanya nanti dia akan datang dengan tante Nini. tante Nini itu adalah kakak kandung ibuku. Tante Nini terkenal tante yang galak tapi dia orangnya baik kok. Sebelum meraka sampai dirumah ibu tiba muntah muntah. Kondisinya semakin mengkhawatirkan, dirumah hanya ada aku dan ayah saat itu. Karena panik aku lari ke rumah tetangga sebelah dan meminta dia datang ke rumah. Magrib itu tiba tiba rumahku jadi ramai. Beberapa tetangga datang ke rumahku tak berselang lama tante Nini dan tante Sani datang mereka langsung mendekap ke ibuku. Ibu muntah muntah, perutnya semakin sakit, wajahnya makin pucat dan kali ini warna kulitnya berubah jadi lebih gelap.
Kepanikanku membuatku gemetaran, kaki dan tanganku mulai dingin dan karena ketakutan itu air mata pun tumpah. Ayah mendekatiku dan mencoba menenangkanku tapi aku tak bisa. Ibu meraih tanganku dan berkata, Lin yang sabar nak, jangan nangis."
Seketika aku sesak, dadaku terasa terhimpit batu besar. Aku berusaha menahan tangisku depan ibu tapi aku tetap tersedu sedu. Ditengah kepanikan kami, om Hilman datang. om Hilman adik kandung ibu. entah siapa yang mengabarinya. Karena panik ayah membujuk ibu  untuk dibawa ke Rumah Sakit. Alhasil ibu mau dirawat di Rumah Sakit. Aku menyiapkan baju dan perlengkapan yang akan dibawa ke Rumah Sakit sedangkan yang lainnya masih disamping ibuku membacakan ayat ayat suci Al Quran.

Tepat setelah shalat  Magrib ibu dibawa ke Rumah Sakit. Ayah dan Om Hilman memapah ibu masuk ke mobil. Ibu semakin lemah, bahkan ia sudah tak sanggup menenangkanku aku hanya mendengar suaranya lirih sedang menahan sakit. Ayah pun bergegas keluar dari rumah dan menuju mabil tapi tiba tiba tante Nini mendekati ayah.
" Mas Dera nanti nyusul aja, Mba Nine biar aku, Sani dan Hilman yang ngurus. Mas disini aja dulu kali aja nanti kami butuh sesuatu disana jadi bisa nitip ke mas" kata tante Nini pada ayah.
Saat itu aku tak lagi kepikiran untuk ngotot ayah ikut, aku terlalu panik dan dihantui ketakutan kehilangan ibu. Tante Nini menyusul masuk ke mobil dia duduk disamping kananku dan kemudian menyusul tante Sani. Sadar ayah ga ikut aku menoleh ke rumah kulihat wajah ayah yang penuh kekhawatiran masih berdiri depan pintu.
"loh kok ayah ga ikut sih tante"?kataku dengan sedikit protes.
"besok ayah nyusul, tadi tante minta tolong ke ayah kamu untuk nyiapin kebutuhan lainnya untuk di Rumah Sakit Nanti." Tante Nini berusaha menjelaskannya padaku secara detail.
Sepanjang perjalanan aku terus merangkul ibu dari belakang karena ibu duduk di depan dan aku tepat dibelakangnya.
"bu,...bibirku gemetar air mataku tak henti bercucuran."
Aku berusaha ngajak ibu untuk dzikir dan sesekali menanyakan keadaannya aku hanya tak ingin ibu diam dan pergi tanpa aku sadar. Aku takut, aku belum siap Ya Allah bisikku dalam hati. Om Hilman yang saat itu menyetir mobil mencoba membuatku tenang.
"Lin, jangan nangis terus nak!"
Aku memeluk ibu dari belakang sesekali kuletakkan tanganku diatas dadanya. Ibu gelisah, ibu mulai sesak nafas.Aku terus menuntunnya untuk mengucapakan kalimat kalimat Allah.
Setelah setengah jam perjalanan akhirnya kami Sampai di Rumah Sakit Walindra. Rumah Sakit terbesar di daerahku. Ibu langsung dilarikan ke UGD.
Aku mengabari ayah lewat pesan singkat,
"ayah, Alin di Rumah Sakit. Ibu sekarang di UGD ayah besok cepat nyusul yah. doain ibu cepat sembuh ayah."
Saat ibu terbaring di UGD, sambil  menunggu suster yang akan memasang selang infus yang baru ibu tiba tiba segar. Ibu ngajak kita bercanda. Aku senang, tante Nini dan tante Sani pun juga lega. Om Hilman masih sibuk diluar sana entah ngapain. Saat suster datang ibuku menyapa suster itu, kemudian suster itu perlahan lahan menusuk tangan ibuku dengan jarum mencoba mencari nadi ibu tapi gagal. Tusukan kedua gagal lagi. Aku mulai sinis melihat dokternya. Tangan ibu mulai membengkak dan terlihat memar. Rasanya saat itu pengen jambak rambut suster itu.
Karena mulai tak tahan melihat kebodohan suster itu aku menegurnya.
"suster sebenarnya bisa ga sih, ibuku udah sakit jangan dibikin makin sakit. kalau belum siap jadi suster jangan coba nanganin pasien dong. mending diem aja di rumah." aku menegurnya dengan suara yang agak keras dan galak.
Tante Sani akhirnya meminta suster lain menagani ibuku. Suster kali ini alhamdulillah hanya dengan sekali tusukan jarum infusnya pun sudah bisa dipasang. Ibu menegurku, " Lin kok galak gitu sih nak, ibu ga pernah ngajarin kamu untuk kasar sama orang."
"ya abisnya Alin gemes ngeliat suster bego kaya dia."
"udah Lin, tante Nini dan tante Sani membujukku."
"aduh anak ibu cantik cantik galaknya minta ampun deh", nanti cepat keriput loh, ibu menggodaku sambil tersenyum melihat aku yang masih kesal dengan suster bego itu.

Malam itu dokternya sedang menangani pasien yang lain jadi setelah selang infus ibu berhasil terpasang, ibu dipindahkan ke kamar pasien. Aku mulai tenang melihat ibu yang lebih sering tersenyum dan mengajakku ngobrol. Sesampainya kami di kamar Anggrek 107, tante Nini, Om Hilman dan tante Sani pamit ke rumah Nenek yang kebetulan jaraknya dekat banget dari Rumah Sakit tempat ibu di rawat. Yah karena kupikir kondisi ibu jauh lebih baik jadi aku tidak merasa keberatan mereka meninggalkanku berdua dengan ibu di kamar.
"Lin, kamu disini aja yah dulu. Om sama tante mau ke rumah nenek mau ngambil selimut, bantal dan makanan buat kamu dan ibumu.".
"iya om, jangan lama lama yah om!"
"kalau ada apa apa telepon om atau tante aja yah".

Malam semakin larut ibu belum bisa tidur, sudah setengah jam tante dan om belum juga kembali ke Rumah Sakit.
"Lin, ibu memanggilku".
"ya bu, ibu kenapa?"
"Lin, tolong telponin tante Desy, ibu mau ngomong".
"besok aja yah bu, ini kan udah malam banget kali aja tante Desy lagi istirahat." Kulihat wajah ibu, sepertinya ada hal penting yang ibu sampaikan ke tante Desy. Tante Desy juga adik kandung ibu. Akhirnya aku menelpon tante Desy.
"haloooo Lin..ada apa?" sapa tante Desy.
"iya nih ibu mau ngomong ma tante", sambil memberikan ponselku pada ibu.
" Des, maaf yah mba ganggu istirahat kamu".
"ga papa kok mba, memangnya ada apa? kok tumben mba telpon Desy tengah malam gini?"
"Des, mba mohon maaf yah kalau mba kadang ngerepotin atau ngeselin kamu, maafin salah mba."
"loh, mba kenapa? mba tenang mba aku ga pernah merasa direpotin atau gimana ma mba. mba udah baik banget, sayang banget ma Desy."
Ibu menyodorkan ponselnya padaku, ibu menangis. Lalu kuambil alih pembicaraan dan menjelaskan semua yang terjadi pada tante Desy. Aku mengakhiri pembicaraan di telpon dengan tante Desy karena kulihat ibu sepertinya kumat sesaknya.
"bu, ibu kenapa? tanyaku panik.
Ibu semakin sesak dan semakin gelisah. Aku segera mengabari tante Nini dan orang di rumah agar cepat nyusul ke Rumah Sakit karena ibu tiba tiba gawat lagi.
"bu, ibu astagfirullah ibu kenapa?"
kedekatkan bibirku di telinga ibu sambil berbisik, "bu,ingat dzikir bu! ibu harus kuat. Alin sayang sama ibu."
"ashadu alla ilaha illallah wa ashadu anna muhammadar rasulullah.... 
La ilaha illallah wala hawla wala kuwwata illa billah......"aku terus menuntun ibu mengucap kalimat Allah. Aku takut ibu seakan sudah punya dunia sendiri, ia hanya berusaha berdzikir meski nafasnya sesak bibir pucatnya berusaha berdzikir.
"bu, dalam hati aja bu kalau ibu susah."
Ibu makin sesak, ibu mata tinggi . Aku segera berlari keluar dari kamar dan berteriak minta tolong
"suster........dokter.........tolooooooong teriakku sekencang mungkin. "
Salah satu suster menghampiriku. dan segera masuk ke kamar ibu. Tak berapa lama om Hilman datang menyusul tante Nini dan tante Sani. Kutitipkan ibu pada mereka dan segera berlari ke ruangan dokter. Tak seorangpun dokter disana. Dalam perjalanan menuju kamar ibu aku menemukan dokter dan memintanya ke kamar ibu. Sampai dikamar ibu, bapak dokter itu menelpon suster lain untuk mengantarkan beberapa alat tes ke kamar ibu.
Aku mendekati ibu, berbisik padanya "bu, Alin takut sendirian jangan tinggalin Alin bu!"
Tante Nini dan Tante Sani juga tak kuasa menahan tangis. Ibu semakin pucat, makin sesak. Tak henti kubisikkan kalimat Allah di telinga ibu sambil menahan tangis.
Dokter itu sibuk memeriksa detak jantung ibu, ibu mata tinggi. Kemudian tiga orang suster masuk ke kamar ibu sambil membawa alat ECG yang kabelnya luar biasa banyak.
Dokter mengambil alih posisiku dan aku pindah ke dekat kaki ibu.
" ibu yang kuat yah!" ibu sudah tak merespon. Tante Sani memelukku erat.
Kabel kabel alat itupun dipasang di tangan, kaki dan dan dada ibu. ibu menghela nafas kemudian hasil ECG perlahan lahan keluar.
"ibu......, bisikku sambil menangis."
Wanita yang sedang berbaring dihadapanku ini sudah tidak mirip ibuku yang cantik, wajahnya pucat, kulitnya seperti memar. Ibu menatapku, "Ibu ini Alin ...."
Setelah secarik kertas hasil ECG itu telah keluar, ibu menghela nafas panjang dan terdengar lirih ibu mengucapkan kalimat Allah, "ashadu alla ilaha illallah wa ashadu anna muhammadar rasulullah.... 
La ilaha illallah wala hawla wala kuwwata illa billah" meski terbata bata ibu berusaha menyelesaikannya dengan sempurna. Ibu menutup matanya dan ternyata tadi itu nafas terakhir ibu. Tubuhku seketika kaku, Aku tak tau apa yang sedang terjadi di hadapanku. Tante Nini dan Tante Sani menangis sekencang kencangnya memanggil nama ibu.
dokter memegang tangan ibu memeriksa nadinya dan kemudian dokter itu menatapku yang masih kaku di hadapan kaki ibu.
"Maaf, tuhan berkendak lain, kata dokter itu"
Tangisku pecah. Tubuhku gemetar dan akhirnya aku terjatuh. Setengah sadar samar samar kudengar kamar ibu dipenuhi tangisan. Aku dipapah Om Hilman. Lima menit kemudian aku menghampiri dokternya..
"dokter...ibu kenapa? ibu jangan dibiarin tidur dulu, Alin mau ngomong sama ibu." Aku memukuli lengan dokter itu. Aku memaksa pikiranku untuk tidak percaya apa yang terjadi, ku pegang tangan ibu yang dingin, kucium wajah pucatnya...
"ibu, ini Alin bu.....bangun. Bangun bu, ada Alin disini. besok Alin yang akan masakin bubur buat ibu. ibuuuuuuuuuuuuuu.....teriakku kencang.
tante Sani mendekatiku dan merangkulku mencoba menyadarkanku kalau ibu sudah pergi untuk selamanya.
aku masih tak terima, kuhampiri dokter itu, "dokter apakan ibuku sampai ga mau bangun?" sambil memukulnya dengan kencang.
Emosi ku tak terkontrol terlebih saat kulihat wajah ibu ditutupi dengan selimut putih itu. Aku berontak aku ga percaya ini semua bisa terjadi secepat ini. Aku ga sanggup. Om Hilman menarikku ke dekapannya.
"Ibu kasian Alin sendiri bu....bangun bu."
Ayah tak ada disana saat ibu meninggal. Aku tak bisa membayangkan hancurnya perasaan ayah saat mendengar kabar duka ini.

Saat itu aku merasa jiwaku hilang, aku seperti tubuh yang kehilangan jiwanya. Aku harus bagaimana. Aku belum siap. Aku ga pernah menyangka kepergian ibu tiba tiba dan secepat ini. Om Hilman membawaku ke rumah nenek yang tak jauh dari Rumah Sakit. karena Aku berontak, om Hilman menggendongku masuk ke mobil dan sampai di rumah nenek aku duduk terdiam mencoba mengingat apayang telah terjadi, nyatakah ini?

Kemudian menyusul Ambulance membawa ibu pulang ke rumah. Dini hari itu akan jadi kenangan terburuk dalam hidupku. Ibu terbaring kaku dihadapanku, aku memeluk ibu. Bebrapa orang mencoba menenangkanku tapi aku sperti orang gila yang punya dunia sendiri.
"ibu, kasian ayah sama Alin bu
ibu tega biarin Alin sendiri?
ibu Alin takut bu...
Ibu banguuuuuuuuuuuuuuuuuun, aku masih mencoba membangunkan ibu dengan kecupanku di tangannya.

tiba tiba sosok lelaki yang kutunggu pun datang.yah dia ayah. Aku mengerti hancurnya perasaan ayah saat itu. Dia tak ada disamping ibu saat itu. Ia mencium kening ibu dan membisikkan Al Fatiha ditelinga ibu matanya berkaca kaca. Ayah tetap berusaha tegar dihadapanku. Ayah mendekatiku, merangkulku, dan mencium keningku dan kemudian dia berkata
"Lin, yang sabar yah nak! masih ada ayah disini. Ikhlaskan ibu pergi Lin, kasian ibu kalau liat kamu seperti ini. Ibu juga pasti sedih liat Alin begini. ayah menenangkanku."
"Alin sekarang alin wudhu biar sedikit tenang nanti setelah itu Alin dan ayah ngaji doain ibu.
Dini hari itu rumah mendadak ramai, terdengar isak tangis memenuhi ruangan itu.

***
Keesokan harinya saat pemakaman aku masih tak percaya, Ayah tak pernah jauh dariku saat itu. Dia slalu mencoba membuatku menerima kenyataan ini. Setelah pemakaman selesai aku tak ingin beranjak sedikitpun dari makam ibu. kupegang erat nisan yang bertuliskan nama ibu. Tante, om dan beberapa keluarga lain mencoba membujukku pulang tapi aku tak bergeming. Sampai ketika ayah datang padaku meraihku dan memapahku pulang.

Sejak saat itu aku hanya bisa diam dan menangis. Aku tak ingin diajak bicara, makanpun aku ga mau. aku hanya diam memeluk pakaian ibu.
aku kehilangan separuh hidupku.....
aku dihantui kehadiran ibu tiri.
aku bingung menjalani hidupku nantinya tanpa ibu.
Aku kehilangan arah, tapi sejak saat itu pula ayah selalu mencoba menjadi ayah sekaligus ibu buat aku. 
 Aku sadar itu tak gampang buat ayah, kehilangan orang yang ia cintai dan harus tetap tegar demi aku.

***
Semenjak ibu meninggal aku jadi pendiam, sensitif dan pemurung. Semua berubah, hidupku hampa. Prestasiku disekolah menurun. Ayah makin khawatir melihat keadaanku yang tak kunjung normal. Berbagai usaha telah ayah coba untuk membuatku kembali ceria sayangnya semua tak secepat itu berubah. Tapi aku bangga ayah benar benar tegar, ayah kuat,  ayah selalu berusaha membuatku bahagia membuatku tak merasa kekurangan kasih sayang semenjak ibu meninggal. Terima kasih ayah selalu membuatku tenang.

Sekuat apapun aku mencoba untuk merima kenyataan kalau ibu sudah pergi untuk selamanya tapi tetap saja kadang aku masih merasa ibu ada. Ibu hanya meninggalkanku untuk sementara dan nanti akan menjemputku pulang ke rumah, memelukku dan memanjakanku lagi.