Aku Alina Maesya. Aku biasa disapa dengan sebutan nama Alin. Aku putri tunggal dari pasangan Bu Neni dan Pak Dera. Aku siswi SMU Kota Baru kelas XI IPA dan sekaligus Wakil Ketua OSIS di sekolahku. Ini periode kedua aku masuk sebagai pengurus OSIS di sekolah. Belakangan ini aku sibuk mengurus acara festival musik antar sekolah yang akan diselenggarakan oleh OSIS.
Seperti setiap harinya pagi aku berangkat sekolah. Belajar, ngurus OSIS dan tentunya nongkrong di kantin Bu Siti bareng teman-temanku, itu udah jadi sesuatu yang wajib. Kantin Bu Siti emang paling beken di sekolah, jajanannya pun maknyos deh pokoknya dan pastinya harganya pas dengan kantong pelajar yang jajannya masih dijatahin orang tua. Tidak seperti teman temanku sepulang sekolah mereka bisa mampir kemana aja untuk sekedar nongkrong atau ngerjain PR bareng, aku mana bisa seperti mereka secara rumah dan sekolah ku jaraknya deket banget. Kalaupun mau nongkrong sepulang sekolah harus mampir di rumah dulu pamit sama ibu dan ayah. Izinnya pun harus detail, dengan siapa, mau kemana, mau ngapain, pulang jam berapa dan blaaa....blaaaa....blaaa.Yah seperti itulah ribetnya putri tunggal yang dipingit.
***
Hari ini aku memimpin rapat pemantapan untuk persiapan festival musik yang akan diselenggarakan dua minggu lagi. Rasanya dua minggu itu seperti 3 hari lagi, semua panitia acara dan OSIS sibuk. Selang 30 menit saya memimpin rapat tiba tiba terdengar ada yang mengetuk pintu ruangan OSIS .
" Alin,Alin sini bentar dong"........Febi memanggilku.
Ada apa Feb? Kalau mau gabung duduk aja dipojok sana, kataku.
Kamu di jemput sopirmu tuh, buruan sepertinya sih penting banget,udah ditungguin depan ruangan guru.
Iya Feb..tapi aku belum selesai rapatnya...
"kamu biar digantiin Doni aja mimpin rapatnya ribet banget sih" , desak Febi.
Maaf teman teman aku pamit bentar rapat tetap akan dilanjutkan oleh Doni. Belum selesai aku berpamitan Febi menarikku keluar dari ruangan kali ini setengah berlari.
Sepanjang perjalanan dari ruang OSIS menuju ruang guru aku ngomelin Febi. Dari jauh kulihat pria berambut klimis dan berjaket coklat menungguku di depan ruang guru. Dia Pak Emin orang yang nganter jemput ibu ke kantor.
Ada apa pak Emin? kok Alin dijemput?Alin kan lagi sibuk.....
belum sempat Pak Emin menjawab pertanyaanku, aku menyerbunya dengan pertanyaan yang baru dengan sedikit desakan.
Emang ibu dan ayah nyuruh Pak Emin Jemput? Mau kemana? kenapa ga nunggu Alin pulang sekolah aja sih?
"ih bawel banget sih kamu, gimana Pak Emin bisa menjawab pertanyaan kamu orang kamunya nyerocos mulu dari tadi kaya burung beo", ujar Febi.
"Gini mba Alin, Ibu sakit saya disuruh jemput mba".
Seketika wajahku berubah pucat dan panik ga biasanya ibu sakit sampai nyuruh orang menjemputku di sekolah.
" ya udah aku izin ma guru dulu yah Pak sekalian mau ambil tas di kelas", aku berlari menuju kelas secepat mungkin.
***
Tidak perlu waktu lama untuk sampai di rumahku, sampai dirumah aku melihat ibu terbaring di ruang tamu di sampingnya ada ayah.
" Ibu sakit apa?, tanyaku panik".
"Ibu mungkin hanya diare Lin, ibu mencoba menenangkanku."
"Tadi emang makan apa di kantor?kok bisa diare? muka ibu pucat banget."
"Lin kamu ke RS Sandrina yah panggil Dr Aswar kesini, kata ibu."
Loh kenapa ga tante Sani aja? Kan tante Sani juga bisa ayah. (tante Sani adalah adik kandung ibu yang juga seorang perawat.Untuk sementara panggil dr Aswar aja dulu, tantemu mungkin masih diluar daerah.
Tanpa banyak protes lagi aku pun ke RS. Sandrina dianterin pak Emin untuk menjemput Dr Aswar. Dr Aswar adalah teman kecil ibu dulu.
***
Sampai di Rumah Sakit aku langung ke UGD dan bertanya pada seorang suster jaga tentang keberadaan Dr Aswar namun ternyata Dr Aswar sedang tidak di Rumah Sakit. Karena aku pikir ini belum jam pulang kerja aku meminta nomor ponsel Dr Aswar ke suster itu. Kemudian aku berinisiatif untuk menelpon Dr Aswar. Tanpa ragu aku menelpon Dr Aswar karena kupikir dia teman ibuku dan akupun cukup akrab dengannya.
"Halo.......", terdengar suaranya seorang disana.
"Dokter ini Alin, dokter lagi dimana?"
"Ada apa Lin? kok tomben kamu nelpon, saya sedang di jalan menuju pulang ke rumah nih Lin."
Ibu sakit dokter, aku disuruh ayah manggil dokter ke rumah.
"waduh Lin besok saja yah saya mampir di rumah kamu".
"Tapi dok..."
tuuuuut..tuuuuuuuuuuuut ( sambungan teleponnya terputus entah karena jaringan yang lagi error saat itu atau memang dokter itu sengaja menutup telponnya)
Ada rasa kecewa yang besar dalam hatiku orang yang aku pikir bisa membantuku ternyata bersikap seperti itu padaku. Aku panik campur khawatir memikirkan keadaan ibu yang tiba tiba sakit, meminta Pak Emin menjemputku di sekolah dan kemudian menyuruhku memanggil dokter. Selama ini yang aku tau ibu ga pernah mengeluh sakit apalagi ibu paling jarang mau berhubungan dengan dokter dan obat obatan. Semuanya terasa aneh tak seperti biasanya.
Sampai dirumah aku langsung kedekat ibu dan menyampaikan kalau dokternya sedang diluar daerah. Ibu dan ayah memakluminya. Kupandangi wajah ibu yang sedang terbaring lemah dan sangat pucat, tiba tiba aku tersentak membayangkan apa jadinya hidupku kalau ibu ga ada. Aku belum bisa apa apa. Aku terbiasa dimanjakan olehnya. Ibu memang sangat tegas dan disiplin apalgi soal pendidikan dan maslah kebersihan. Ayah pun tak kalah baiknya, ia sangat memanjakanku. Aku merasa hidupku sangat sempurna karena kasih sayang mereka.
Malam harinya suhu badan ibu meningkat, ayah menelpon tante Sani. Alhamdulillah tante Sani udah pulang dan ga beberapa lama kemudian tante Sani datang ke rumah memeriksa keadaan ibu. Setelah diberi obat oleh tante Sani, ibu tertidur pulas.
***
Kesekokan harinya aku siap siap ke sekolah, saat pamitan mau berangkat sekolah ibu memintaku untuk izin sekolah hari ini. Aku makin takut karena ibu ga pernah bersikap semanja ini. Sejak pagi itu aku ga pernah jauh dari sisi ibu. Meski ayah terlihat bersikap biasa aja, aku tau ayah juga sama khawatir, takut dan paniknya dengan aku. Hanya saja ayah berusaha menutupi apa yang ia rasakan. Ia hanya tak ingin aku makin panik.
Pagi itu juga tante Sani datang mengontrol perkembangan kesehatan ibu. Tante Sani menyarankan agar ibu di infus karena takutnya kondisinya semakin lemah. Untungnya ada tante Sani karena ibu sebenarnya paling ga betah kalau harus di rawat di Rumah Sakit. Aku selalu mencoba ngajak ibu ngobrol. Sesekali ku ajak ibu berfoto denganku. Dia hanya tersenyum melihat tingkahku yang narsis. Setelah ibu tertidur kupandangi foto ibu di ponselku rasanya wajah ibu beda dari yang biasanya kulihat.Tante Sani pun harus pulang meski karena masih ada pasien lain yang menunggu tante Sani. Jam terbang tante Sani di daerahku sudah tidak diragukan lagi.
***
"Lin...Lin..bangun nak."ibu berusaha membangunkanku.
"ya bu, maaf Alin ketiduran", spontan aku bangun.
Ada yang perlu Alin bantu bu? ibu mau apa?"
"Ga Lin ibu cuma bangunin kamu shalat dzuhur, Alin jangan lalai shalat yah nak! Alin mau kan jadi anak manis yang shalehah?" ibu sedikit membujukku karena aku masih terlihat susah beranjak dari tidurku.
"iya dong bu," sambil tersenyum aku perlahan lahan bangun dan kemudian beranjak mengambil air wudhu.
Setelah shalat aku menghampiri ibu, kucium tangannya, pipinya dan kupeluk erat.
"Lin, udah jangan lama lama peluknya ibu kan belum mandi."
"ibu mau ga mandi juga ibu tetap ibu cantik kesayangannya Alin dong".
"kamu ini memang paling bisa ngeles deh Lin."
"bu..." sambil mengenggam tangan kanan ibu.
"apa yang ibu rasain sekarang? perutnya masih sakit ga bu? atau ada keluhan apa bu?"
"ibu ga apa apa kok Lin, sekarang udah mendingan".
ada perasaan sedikit lega mendengar jawaban ibu dan melihatnya tersenyum.
"bu, ibu makan lagi yah! Alin suapin ibu yah."
"Loh Alin yang masak yah? Kapan masaknya nak?" ibu menatapku dengan muka sedikit bingung.
sambil tertawa kecil saya menjawab pertanyaan ibu dengan malu malu.
"Ga bu, itu tadi ayah yang masak bubur buat ibu", kataku sambil melirik ayah yang sedang membantu ibu bangun.
"oooh, ibu pikir Alin udah bisa masak. Lin, Alin harus bisa masak nak. tidak selamanya Alin akan hidup dengan bantuan ayah dan ibu. Suatu saat nanti Alin harus mandiri."
"iya bu, Alin ngerti. Makanya ibu cepat sembuh biar nanti bisa ajarin Alin masak seperti ibu."
Tiba tiba suasana hening, aku tetap menyuapi ibu makan. Kali ini kelihatannya ibu benar benar sakit. Biasanya kalau ibu hanya demam ibu tetap lahap makannya katanya biar cepat sembuh tapi sekarang ibu terlihat tak berselera makan.
"Lin, cukup! ibu udah kenyang."
"Kalau gitu ibu minum obatnya yah! nanti ibu istirahat lagi."
Setelah makan aku berbaring disamping ibu, mengajaknya ngobrol. Ibu tak banyak bicara, ibu kadang hanya menganggukan kepalanya atau tersenyum jika ia merasa ceritaku menggelitik. Sepertinya kondisi ibu melemah, aku bangun kemudian menarik ayah dan berbisik padanya.
" ayah, aku khawatir liat kondisi ibu sekarang". Ayah tak menjawab ia hanya mengelus kepalaku dan menganggukkan kepalanya. Entah apa maksud ayah tapi bagaimanapun aku mengerti kalau ayah juga merasakan hal yang sama dengan aku.
***
Tepat pukul 17.00 WITA saat itu aku menerima telpon dari tante Sani katanya nanti dia akan datang dengan tante Nini. tante Nini itu adalah kakak kandung ibuku. Tante Nini terkenal tante yang galak tapi dia orangnya baik kok. Sebelum meraka sampai dirumah ibu tiba muntah muntah. Kondisinya semakin mengkhawatirkan, dirumah hanya ada aku dan ayah saat itu. Karena panik aku lari ke rumah tetangga sebelah dan meminta dia datang ke rumah. Magrib itu tiba tiba rumahku jadi ramai. Beberapa tetangga datang ke rumahku tak berselang lama tante Nini dan tante Sani datang mereka langsung mendekap ke ibuku. Ibu muntah muntah, perutnya semakin sakit, wajahnya makin pucat dan kali ini warna kulitnya berubah jadi lebih gelap.
Kepanikanku membuatku gemetaran, kaki dan tanganku mulai dingin dan karena ketakutan itu air mata pun tumpah. Ayah mendekatiku dan mencoba menenangkanku tapi aku tak bisa. Ibu meraih tanganku dan berkata, Lin yang sabar nak, jangan nangis."
Seketika aku sesak, dadaku terasa terhimpit batu besar. Aku berusaha menahan tangisku depan ibu tapi aku tetap tersedu sedu. Ditengah kepanikan kami, om Hilman datang. om Hilman adik kandung ibu. entah siapa yang mengabarinya. Karena panik ayah membujuk ibu untuk dibawa ke Rumah Sakit. Alhasil ibu mau dirawat di Rumah Sakit. Aku menyiapkan baju dan perlengkapan yang akan dibawa ke Rumah Sakit sedangkan yang lainnya masih disamping ibuku membacakan ayat ayat suci Al Quran.
Tepat setelah shalat Magrib ibu dibawa ke Rumah Sakit. Ayah dan Om Hilman memapah ibu masuk ke mobil. Ibu semakin lemah, bahkan ia sudah tak sanggup menenangkanku aku hanya mendengar suaranya lirih sedang menahan sakit. Ayah pun bergegas keluar dari rumah dan menuju mabil tapi tiba tiba tante Nini mendekati ayah.
" Mas Dera nanti nyusul aja, Mba Nine biar aku, Sani dan Hilman yang ngurus. Mas disini aja dulu kali aja nanti kami butuh sesuatu disana jadi bisa nitip ke mas" kata tante Nini pada ayah.
Saat itu aku tak lagi kepikiran untuk ngotot ayah ikut, aku terlalu panik dan dihantui ketakutan kehilangan ibu. Tante Nini menyusul masuk ke mobil dia duduk disamping kananku dan kemudian menyusul tante Sani. Sadar ayah ga ikut aku menoleh ke rumah kulihat wajah ayah yang penuh kekhawatiran masih berdiri depan pintu.
"loh kok ayah ga ikut sih tante"?kataku dengan sedikit protes.
"besok ayah nyusul, tadi tante minta tolong ke ayah kamu untuk nyiapin kebutuhan lainnya untuk di Rumah Sakit Nanti." Tante Nini berusaha menjelaskannya padaku secara detail.
Sepanjang perjalanan aku terus merangkul ibu dari belakang karena ibu duduk di depan dan aku tepat dibelakangnya.
"bu,...bibirku gemetar air mataku tak henti bercucuran."
Aku berusaha ngajak ibu untuk dzikir dan sesekali menanyakan keadaannya aku hanya tak ingin ibu diam dan pergi tanpa aku sadar. Aku takut, aku belum siap Ya Allah bisikku dalam hati. Om Hilman yang saat itu menyetir mobil mencoba membuatku tenang.
"Lin, jangan nangis terus nak!"
Aku memeluk ibu dari belakang sesekali kuletakkan tanganku diatas dadanya. Ibu gelisah, ibu mulai sesak nafas.Aku terus menuntunnya untuk mengucapakan kalimat kalimat Allah.
Setelah setengah jam perjalanan akhirnya kami Sampai di Rumah Sakit Walindra. Rumah Sakit terbesar di daerahku. Ibu langsung dilarikan ke UGD.
Aku mengabari ayah lewat pesan singkat,
"ayah, Alin di Rumah Sakit. Ibu sekarang di UGD ayah besok cepat nyusul yah. doain ibu cepat sembuh ayah."
Saat ibu terbaring di UGD, sambil menunggu suster yang akan memasang selang infus yang baru ibu tiba tiba segar. Ibu ngajak kita bercanda. Aku senang, tante Nini dan tante Sani pun juga lega. Om Hilman masih sibuk diluar sana entah ngapain. Saat suster datang ibuku menyapa suster itu, kemudian suster itu perlahan lahan menusuk tangan ibuku dengan jarum mencoba mencari nadi ibu tapi gagal. Tusukan kedua gagal lagi. Aku mulai sinis melihat dokternya. Tangan ibu mulai membengkak dan terlihat memar. Rasanya saat itu pengen jambak rambut suster itu.
Karena mulai tak tahan melihat kebodohan suster itu aku menegurnya.
"suster sebenarnya bisa ga sih, ibuku udah sakit jangan dibikin makin sakit. kalau belum siap jadi suster jangan coba nanganin pasien dong. mending diem aja di rumah." aku menegurnya dengan suara yang agak keras dan galak.
Tante Sani akhirnya meminta suster lain menagani ibuku. Suster kali ini alhamdulillah hanya dengan sekali tusukan jarum infusnya pun sudah bisa dipasang. Ibu menegurku, " Lin kok galak gitu sih nak, ibu ga pernah ngajarin kamu untuk kasar sama orang."
"ya abisnya Alin gemes ngeliat suster bego kaya dia."
"udah Lin, tante Nini dan tante Sani membujukku."
"aduh anak ibu cantik cantik galaknya minta ampun deh", nanti cepat keriput loh, ibu menggodaku sambil tersenyum melihat aku yang masih kesal dengan suster bego itu.
Malam itu dokternya sedang menangani pasien yang lain jadi setelah selang infus ibu berhasil terpasang, ibu dipindahkan ke kamar pasien. Aku mulai tenang melihat ibu yang lebih sering tersenyum dan mengajakku ngobrol. Sesampainya kami di kamar Anggrek 107, tante Nini, Om Hilman dan tante Sani pamit ke rumah Nenek yang kebetulan jaraknya dekat banget dari Rumah Sakit tempat ibu di rawat. Yah karena kupikir kondisi ibu jauh lebih baik jadi aku tidak merasa keberatan mereka meninggalkanku berdua dengan ibu di kamar.
"Lin, kamu disini aja yah dulu. Om sama tante mau ke rumah nenek mau ngambil selimut, bantal dan makanan buat kamu dan ibumu.".
"iya om, jangan lama lama yah om!"
"kalau ada apa apa telepon om atau tante aja yah".
Malam semakin larut ibu belum bisa tidur, sudah setengah jam tante dan om belum juga kembali ke Rumah Sakit.
"Lin, ibu memanggilku".
"ya bu, ibu kenapa?"
"Lin, tolong telponin tante Desy, ibu mau ngomong".
"besok aja yah bu, ini kan udah malam banget kali aja tante Desy lagi istirahat." Kulihat wajah ibu, sepertinya ada hal penting yang ibu sampaikan ke tante Desy. Tante Desy juga adik kandung ibu. Akhirnya aku menelpon tante Desy.
"haloooo Lin..ada apa?" sapa tante Desy.
"iya nih ibu mau ngomong ma tante", sambil memberikan ponselku pada ibu.
" Des, maaf yah mba ganggu istirahat kamu".
"ga papa kok mba, memangnya ada apa? kok tumben mba telpon Desy tengah malam gini?"
"Des, mba mohon maaf yah kalau mba kadang ngerepotin atau ngeselin kamu, maafin salah mba."
"loh, mba kenapa? mba tenang mba aku ga pernah merasa direpotin atau gimana ma mba. mba udah baik banget, sayang banget ma Desy."
Ibu menyodorkan ponselnya padaku, ibu menangis. Lalu kuambil alih pembicaraan dan menjelaskan semua yang terjadi pada tante Desy. Aku mengakhiri pembicaraan di telpon dengan tante Desy karena kulihat ibu sepertinya kumat sesaknya.
"bu, ibu kenapa? tanyaku panik.
Ibu semakin sesak dan semakin gelisah. Aku segera mengabari tante Nini dan orang di rumah agar cepat nyusul ke Rumah Sakit karena ibu tiba tiba gawat lagi.
"bu, ibu astagfirullah ibu kenapa?"
kedekatkan bibirku di telinga ibu sambil berbisik, "bu,ingat dzikir bu! ibu harus kuat. Alin sayang sama ibu."
"ashadu alla ilaha illallah wa ashadu anna muhammadar rasulullah....
La ilaha illallah wala hawla wala kuwwata illa billah......"aku terus menuntun ibu mengucap kalimat Allah. Aku takut ibu seakan sudah punya dunia sendiri, ia hanya berusaha berdzikir meski nafasnya sesak bibir pucatnya berusaha berdzikir.
"bu, dalam hati aja bu kalau ibu susah."
Ibu makin sesak, ibu mata tinggi . Aku segera berlari keluar dari kamar dan berteriak minta tolong
"suster........dokter.........tolooooooong teriakku sekencang mungkin. "
Salah satu suster menghampiriku. dan segera masuk ke kamar ibu. Tak berapa lama om Hilman datang menyusul tante Nini dan tante Sani. Kutitipkan ibu pada mereka dan segera berlari ke ruangan dokter. Tak seorangpun dokter disana. Dalam perjalanan menuju kamar ibu aku menemukan dokter dan memintanya ke kamar ibu. Sampai dikamar ibu, bapak dokter itu menelpon suster lain untuk mengantarkan beberapa alat tes ke kamar ibu.
Aku mendekati ibu, berbisik padanya "bu, Alin takut sendirian jangan tinggalin Alin bu!"
Tante Nini dan Tante Sani juga tak kuasa menahan tangis. Ibu semakin pucat, makin sesak. Tak henti kubisikkan kalimat Allah di telinga ibu sambil menahan tangis.
Dokter itu sibuk memeriksa detak jantung ibu, ibu mata tinggi. Kemudian tiga orang suster masuk ke kamar ibu sambil membawa alat ECG yang kabelnya luar biasa banyak.
Dokter mengambil alih posisiku dan aku pindah ke dekat kaki ibu.
" ibu yang kuat yah!" ibu sudah tak merespon. Tante Sani memelukku erat.
Kabel kabel alat itupun dipasang di tangan, kaki dan dan dada ibu. ibu menghela nafas kemudian hasil ECG perlahan lahan keluar.
"ibu......, bisikku sambil menangis."
Wanita yang sedang berbaring dihadapanku ini sudah tidak mirip ibuku yang cantik, wajahnya pucat, kulitnya seperti memar. Ibu menatapku, "Ibu ini Alin ...."
Setelah secarik kertas hasil ECG itu telah keluar, ibu menghela nafas panjang dan terdengar lirih ibu mengucapkan kalimat Allah, "ashadu alla ilaha illallah wa ashadu anna muhammadar rasulullah....
La ilaha illallah wala hawla wala kuwwata illa billah" meski terbata bata ibu berusaha menyelesaikannya dengan sempurna. Ibu menutup matanya dan ternyata tadi itu nafas terakhir ibu. Tubuhku seketika kaku, Aku tak tau apa yang sedang terjadi di hadapanku. Tante Nini dan Tante Sani menangis sekencang kencangnya memanggil nama ibu.
dokter memegang tangan ibu memeriksa nadinya dan kemudian dokter itu menatapku yang masih kaku di hadapan kaki ibu.
"Maaf, tuhan berkendak lain, kata dokter itu"
Tangisku pecah. Tubuhku gemetar dan akhirnya aku terjatuh. Setengah sadar samar samar kudengar kamar ibu dipenuhi tangisan. Aku dipapah Om Hilman. Lima menit kemudian aku menghampiri dokternya..
"dokter...ibu kenapa? ibu jangan dibiarin tidur dulu, Alin mau ngomong sama ibu." Aku memukuli lengan dokter itu. Aku memaksa pikiranku untuk tidak percaya apa yang terjadi, ku pegang tangan ibu yang dingin, kucium wajah pucatnya...
"ibu, ini Alin bu.....bangun. Bangun bu, ada Alin disini. besok Alin yang akan masakin bubur buat ibu. ibuuuuuuuuuuuuuu.....teriakku kencang.
tante Sani mendekatiku dan merangkulku mencoba menyadarkanku kalau ibu sudah pergi untuk selamanya.
aku masih tak terima, kuhampiri dokter itu, "dokter apakan ibuku sampai ga mau bangun?" sambil memukulnya dengan kencang.
Emosi ku tak terkontrol terlebih saat kulihat wajah ibu ditutupi dengan selimut putih itu. Aku berontak aku ga percaya ini semua bisa terjadi secepat ini. Aku ga sanggup. Om Hilman menarikku ke dekapannya.
"Ibu kasian Alin sendiri bu....bangun bu."
Ayah tak ada disana saat ibu meninggal. Aku tak bisa membayangkan hancurnya perasaan ayah saat mendengar kabar duka ini.
Saat itu aku merasa jiwaku hilang, aku seperti tubuh yang kehilangan jiwanya. Aku harus bagaimana. Aku belum siap. Aku ga pernah menyangka kepergian ibu tiba tiba dan secepat ini. Om Hilman membawaku ke rumah nenek yang tak jauh dari Rumah Sakit. karena Aku berontak, om Hilman menggendongku masuk ke mobil dan sampai di rumah nenek aku duduk terdiam mencoba mengingat apayang telah terjadi, nyatakah ini?
Kemudian menyusul Ambulance membawa ibu pulang ke rumah. Dini hari itu akan jadi kenangan terburuk dalam hidupku. Ibu terbaring kaku dihadapanku, aku memeluk ibu. Bebrapa orang mencoba menenangkanku tapi aku sperti orang gila yang punya dunia sendiri.
"ibu, kasian ayah sama Alin bu
ibu tega biarin Alin sendiri?
ibu Alin takut bu...
Ibu banguuuuuuuuuuuuuuuuuun, aku masih mencoba membangunkan ibu dengan kecupanku di tangannya.
tiba tiba sosok lelaki yang kutunggu pun datang.yah dia ayah. Aku mengerti hancurnya perasaan ayah saat itu. Dia tak ada disamping ibu saat itu. Ia mencium kening ibu dan membisikkan Al Fatiha ditelinga ibu matanya berkaca kaca. Ayah tetap berusaha tegar dihadapanku. Ayah mendekatiku, merangkulku, dan mencium keningku dan kemudian dia berkata
"Lin, yang sabar yah nak! masih ada ayah disini. Ikhlaskan ibu pergi Lin, kasian ibu kalau liat kamu seperti ini. Ibu juga pasti sedih liat Alin begini. ayah menenangkanku."
"Alin sekarang alin wudhu biar sedikit tenang nanti setelah itu Alin dan ayah ngaji doain ibu.
Dini hari itu rumah mendadak ramai, terdengar isak tangis memenuhi ruangan itu.
***
Keesokan harinya saat pemakaman aku masih tak percaya, Ayah tak pernah jauh dariku saat itu. Dia slalu mencoba membuatku menerima kenyataan ini. Setelah pemakaman selesai aku tak ingin beranjak sedikitpun dari makam ibu. kupegang erat nisan yang bertuliskan nama ibu. Tante, om dan beberapa keluarga lain mencoba membujukku pulang tapi aku tak bergeming. Sampai ketika ayah datang padaku meraihku dan memapahku pulang.
Sejak saat itu aku hanya bisa diam dan menangis. Aku tak ingin diajak bicara, makanpun aku ga mau. aku hanya diam memeluk pakaian ibu.
aku kehilangan separuh hidupku.....
aku dihantui kehadiran ibu tiri.
aku bingung menjalani hidupku nantinya tanpa ibu.
Aku kehilangan arah, tapi sejak saat itu pula ayah selalu mencoba menjadi ayah sekaligus ibu buat aku.
Aku sadar itu tak gampang buat ayah, kehilangan orang yang ia cintai dan harus tetap tegar demi aku.
***
Semenjak ibu meninggal aku jadi pendiam, sensitif dan pemurung. Semua berubah, hidupku hampa. Prestasiku disekolah menurun. Ayah makin khawatir melihat keadaanku yang tak kunjung normal. Berbagai usaha telah ayah coba untuk membuatku kembali ceria sayangnya semua tak secepat itu berubah. Tapi aku bangga ayah benar benar tegar, ayah kuat, ayah selalu berusaha membuatku bahagia membuatku tak merasa kekurangan kasih sayang semenjak ibu meninggal. Terima kasih ayah selalu membuatku tenang.
Sekuat apapun aku mencoba untuk merima kenyataan kalau ibu sudah pergi untuk selamanya tapi tetap saja kadang aku masih merasa ibu ada. Ibu hanya meninggalkanku untuk sementara dan nanti akan menjemputku pulang ke rumah, memelukku dan memanjakanku lagi.