Jumat, 06 Juni 2014

How can I forget

Hi...
Kali ini saya memberanikan diri untuk nyampah lewat tulisan. Ngomel, curhat, ngamuk lewat susunan kalimat demi kalimat ini. Yaaa.....tak ada asap jika tak ada api, klise banget sih emang ungkapannya tapi emang bener. Sama halnya dengan saya saat ini, ga akan mungkin saya bisa dengan semangat 45 ngeblog malam ini kalau bukan karena udah terlalu sumpek dan mumet karena sesuatu yang udah dari jaman Anang Hermansyah & Krisdayanti masih rukun akur tentram sejahtera sampe cerai trus PDKT ma Syahrini trus putus kemudian pacaran sm Ashanty dan sampe akhirnya berhasil menikahi Ashanty ( what??ga nyambung deh but its Ok) saya pendam smpe sekarang.

Masalah apa yang paling sensitif buat kalian? ya kl bisa sy menebak dari hasil survey yang berhasil dengan suksesnya sy lakukan di rumah ada beberapa masalah yang sangat sensitif yang bisa mengundang amukan macan seperti sy,  adalah sebagai berikut :

1. Family
2. Financial
3. Food (yang ketiga ini mungkin hanya terjadi pada kehidupan pribadi sy)

Nah bagaimana? Dari beberapa yang udah sy sebutkan diatas apa ada yang menurut Anda "ihh sumpeh mi apaaah ni Gw Bingiiiits". Its Oke itu manusiawi kok setiap orang mempunyai Area Superduper sensitif. Yang berhasil pecahin rekor buat saya ngamuk adalah mereka yang menyakiti keluarga saya. Oh iya sebelum terlalu jauh curhatnya saya ingin klarifikasi tentang apa yang saya sebut dengan "keluarga".

Keluarga itu adalah orang yang selalu dengan tulus dan penuh kasih sayang mendidik, mendampingi dan menerima kita dalam keadaan apapun. Orang yang tidak pernah menuntut imbalan dari setiap ketulusan dan kasih sayang yang mereka berikan. Bukan mereka yang menusuk dari belakang, memandang dari segi materi bukan juga  mereka yang menjadikanmu bak sapi perah saat kamu sukses. 

Saya rasa basa basinya udah cukup segitu aja dulu takutnya malah jadi basi banget ceritanya sekarang masuk ke Pembahasan Masalah. hahahhahha. Udah kaya lagi skripsi aja. Jadi konon ceritanya seperti ini, semenjak Ibu saya meninggal saya hanya punya "Bapak" selebihnya cuma status doang tuh yang namanya keluarga tapi secara hati, jiwa dan silsilah yang namanya keluarga buat saya hanya Bapak dan Ibu. 

Setelah mendapat gelar S.IP dibelakang nama saya, saya memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Bukan tanpa alasan dan pertimbangan kuat saya mengambil keputusan untuk hidup sendiri di Kota Besar dan meninggalkan Bapak sendirian disana. Sungguh ini pilihan yang sangat berat dan sulit. Tapi pilihan ini saya ambil dengan pertimbangan kalau saya tetap di Makasar saya hanya akan jadi permpuan biasa dan akan tetap menjadi "Upik Abu yang NOTHING" dihadapan mereka.

Saya hanya akan sakit hati dan makin terhina selalu mengemis perhatian dari mereka yang pernah kusebut keluarga. Sampe akhir tahun kemarin saya masih sabar dan masih berharap mereka membuka pintu hati dan menerima keberadaan saya dengan tulus sebagai keluarga mereka yang akan selalu  berusaha membuat mereka bahagia dan berusaha membantu apapun itu dengan segala kekuatan dan kemampuan yang saya punya. 

Tidak semanis yang saya impikan, mereka masih saja belum berubah. masih memandang saya hanya keluarga angkat. Mungkin kasta terendah bagi mereka adalah keluarga saya tapi saya masih belum peduli saat itu, saat mereka dengan senang hati membuatku bagai Upik Abu. Saat itu kalau dengan memanfaatkan saya mereka bisa bahagia, its Oke anggap aja pahala dan latihan pengendalian diri.

Hampir 2 tahun lamanya tak bertemu mereka, ternyata tak ada yang spesial saat saya datang dengan perasaan setumpuk rindu pada mereka yang "pernah kusebut keluarga". Tak harus dijemput dengan karpet merah kok, tak harus dijamu dengan makanan mewah yang saya inginkan hanya kebersamaan yang tulus. Kabar yang paling menohok setelah saya kembali adalah mereka protes keras saya pulang ga bawa oleh2 katanya udah kerja saat itu saya sama sekali tidak berencana untuk pulang tapi karena ada tiket promo jadi jadi saya manfaatkan semaksimal mungkin tapi bukankah mereka yang menyebut dirinya "keluarga" jauh merasa labih bahagia dan extcited saat salah satu anggota keluarganya yang udah lama ga pulang akan datang, trus masalah numpang makan gaji kemana aja lah trus kalau saya datengnya pas malam orang makan malam masa iya saya nolak rezeki kalau diajak makan malam, ATM bermaasalah ga bisa booking tiket dibilangnya jauh jauh kerja beli tiket aja ga sanggup trus salah gw, salah abang2 security ATM? .. Oh God, I can forget the way they hurt me...

Saya sampe merasa ada yang aneh, semua hal bisa jadi cerita negatif dan mereka jadi sangat offensive terhadap saya. Salah apa coba? Masih suka bingung deh saya baik aja salah apalagi kalau udah jahat, bisa dibakar hidup hidup kali saya. 

Saya ga peduli saya disakiti mereka ASAL jangan sakiti Bapak saya. Saya rasa anak dibelahan dunia manapun pasti sangat amat tidak rela dunia akhirat kalau orangtuanya disakiti atau direndahkan oranglain. Saya yakin itu. Dan terimakasih buat mereka yang akhirnya menyadarkan saya dari mimpi manis yang panjang, mimpi manis bahwa saya dan mereka bisa berubah menjadi keluarga yang sangat harmonis dan penuh cinta.

Hal tersulit untuk saya maafkan. mereka menyakiti Bapak saya. Seumur hidup saya ga pernah dengar bapak saya nangis bahkan saat Ibu saya meninggal. Tapi saat itu samar samar suaranya seperti menahan isak tangis saat saya telpon. Tidak ada kata kasar sedikitpun, tak ada amarah sedikitpun. Tapi dari suaranya yang sedikit gemetar saya tau Bapak saat itu sangat terpukul. Mereka sudah sangat keterlaluan. 

Permasalah yang sangat sepele, dan bukan urusan mereka. Waktu itu saya hanya lagi diuji Allah aja, ATM saya bermasalah semntara saya harus bayar tiket saat itu juga karena esoknya saya sudah harus kembali ke perantauan. Karena saya sama sekali tidak berniat sedikitpun muenyusahkan keluarga akhirnya saya nekat jual HP yang saya punya seharga 500.000 itupun jualnya ke tante. Dengan pemikiran setelah saya sampai di Jakarta saya bisa menebus HP itu lagi toh jualnya ke tante kan? jadi ga masalah. ternyata jadi masalah besar dan jadi HOT NEWS di kelurga. itu yah ibaratnya kalau di koran di headlinenya tertulis gini STATUS KARYAWAN, TERNYARA BELUM SANGGUP BELI TIKET. Astagfrirullah.. I think its not a big deal right?? 


Dari mulut ke mulut cerita itu makin didramatisir sampai Bapak saya dimaki maki oleh salah satu tante katanya "anak kamu itu ga jelas kerjanya, sudah kerja kok ga sanggup beli tiket malu maluin keluarga"...what??? are you kidding meeeeeeeeee???? Itu jadi pukulan terbesar buat bapak saya karena perjuangan saya disini diremehin.. Saya ga harus pamer dancerita kan bagaimana saya berusaha survive dan nabung kemudian cari kerja? Atleast saya bisa mandiri dan bebagi ke Bapak saya. kok mereka yang sewot sih? 


Rasanya saat itu pengen banget saya pulang lagi dan sumpel mulutnya pake batu. Tapi tiba tiba saya teringa pesan almarhum ibu, kalau suatu saat saya tidak bisa menahan amarah istigfarlah dan ingat kalau diluar sana masih ada kekuatan yang lebih besar dari Uang yang mereka anggap tuhan, masih ada Allah yang lebih berhak membalas mereka. Katanya cukup balas dengan kebaikan dan tetap berdoa semoga suatu saat mereka bisa diberi Hidayah oleh Allah. 

Tapi rasanya tak cukup, saya masih sangat tidak rela mereka menghina saya dan Bapak karena Uang, sampe pada suatu saat ada kesempatan saya memberi penawaran tiket gratis bolak balik MKS-JKT untuk beberapa orang untuk mengahadiri pernikahan saya, setelah ditawari dia malah mencibir katanya kalau JKT sy udah sering. What?? ini bukan masalah tempat tapi ini masalah anak dari saudara kandung anda menikah, jika saja dia masih merasa keluarga dia pasti mau datang bahkan tak ditawari tiket gratispun mereka pasti excited untuk datang tapi yang terjadi ditawari kebaikanpun yang ada saya  malah dicari cari kesalahannya..


Duh apa untungnya sih cari cari kesalahan saya, toh ga akan berubah jadi duit kan. Berubah jadi dosa, ya iya udah pasti kali... Katanya saya durhaka karena ga patuh sama adatlah, saya sombonglah pake acara traktir tiket gratislah, saya hamil, inilah itulah.....Tuh kan bahkan dengan niat yang muliapun masih salah di depan mereka. 

Saya memilih menikah ditempat rantauan saya bukan berarti saya durhaka sama adat?? Apa ada dalil atau hadist yang menguatkan kalau nikah harus pake adat? Pernikahan impian saya adalah pernikahan yangf berlandaskan agama dan syar'i. Bukan pernikahan yang dipaksankan mewah karena gengsi dan kemudian terlilit utang karena biaya nikah yang fantastis. Adat itu hanya tradisi, bukan berarti saya menyepelekan Adat tapi itukan pernikan saya dan Bapak saya pun setuju kok mereka yang kebakar yah? Bantu aja kagak ngeribetin luar biasa.

Saya hanya berharap keluarga bahagia dengan pernikahan saya tanpa harus merepotkan. Mereka cukup datang, tiket, villa, catering semuanya Alhmdllh saya handle berdua dengan calon suami (saat itu skrg suami). Niat saya baik kok saya cuma ingin kalian jalan2 gratis, menikmati perjalanan ini seperti liburan. Lalu salahnya dimana? di adat lagi ????

Intinya mereka tidak akan menagnggap saya benar karena emang mindsetnya adalah saya itu bahan yang paling mantep buat disalah salahin...Its Okeeeeeeeeeeeeeeeeeeh

Lu...gw...ENDDDDDD !!!!!!! hahhahahhhaha

Bahkan sebulan setalah pernikahan saya  mereka tidak pernah mengucapkan "selamat". Ngambek niyeeeeeeh. terimakasih apapun itu terimakasih atas pelajaran berharga ini.